Pentingkah Sekolah? -Deddy Corbuzier

 
  • 1 Vote(s) - 5 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
View Mode
Views:

2053


Replies:12

Pentingkah Sekolah? -Deddy Corbuzier

Berikut saya rangkum rekaman Deddy Corbuzier (yang saya dapat dari google + youtube ) tentang sekolah di Indonesia. Wajib didengar atau dibaca bagi wali murid. Bagus juga untuk renungan guru. Jika ada yang salah mohon dikoreksi.

[Image: 0.jpg]

Pertama, sekolah itu PENTING. Tapi banyak hal yang salah di dalam sekolah, terutama di Indonesia. Anda tahu, banyak anak yang tidak baik di sekolahnya tapi besarnya bisa sukses. Sedangkan anak-anak yang sukses di sekolah (bukannya tidak sukses), mereka bekerja sebagai pegawai biasa. Mengapa? Karena masa depan tidak ditentukan oleh sekolah.

Kalau anda lihat, apa sih yang ingin dibentuk oleh sekolah? Menurut saya (Deddy Corbuzier) hanya satu, sekolah ingin membentuk anak didiknya menjadi guru. Ya, guru matematika ingin anak didiknya menjadi guru matematika dan guru sejarah ingin anak didiknya menjadi guru sejarah. Begitu juga dengan guru-guru lainnya. Misal kita ambil satu guru, guru matematika jika kita tes geografi maka dia tidak akan bisa mendapatkan nilai yang baik. Lalu mengapa jika guru-guru tersebut tidak bisa melakukan hal-hal yang lain dengan baik sedangkan semua murid dipaksa mendapakan semua nilainya baik? Jika gurunya saja hanya menguasai satu mata pelajaran mengapa murid harus mengetahui semua mata pelajaran? Untuk dasar katanya. Toh guru tersebut juga sadar, saat dia dewasa dia tidak menggunakan semua mata pelajaran yang diberikan waktu kecil. Karena pada dasarnya tidak ada manusia yang sempurna dalam segala hal, begitu juga dengan murid-murid. Murid-murid tidak akan bisa menguasai semua hal dengan baik. Dan banyak pelajaran-pelajaran yang diberikan tidak digunakan ketika dewasa.


Sekarang apanya yang mesti dirubah, sekolahnya atau sistemnya? Mengapa tidak sejak kecil ketika anak masuk SD kita lihat dulu berapa lama lalu kita bagi kelasnya? Kalau memang anak ini suka matematika, berika dia pelajaran matematika lebih banyak. Seperti orang kuliah tapi sejak kecil. Jadi sejak kecil anak ini dijuruskan ke pelajaran yang dia suka. Bukan dijejalkan dengan semua pelajaran yang dia suka atau tidak suka harus bisa, harus hafal.

Ada anak yang pintar, bisa menghafal semua tapi ketika dewasa pikirannya telah terkotaki, kreatifitasnya telah buntu, otak kanannya tidak akan jalan karena yang dipakai otak kirinya untuk menghafal, menghafal, menghafal.. Akhirnya bukan pintar, bukan cerdik tapi jago menghafal. Dan biasanya anak seperti itu pelajaran olah raga atau seninya tidak baik, karena otak kanannya tidak dipakai.

Untuk merubahnya butuh tahunan, tapi saya harap suatu saat bisa. Kalau orang tua mendukung apa yang anak suka dalam mata pelajaran, mungkin akan menjadi anak yang berhasil kedepannya. Misal pelajaran matematika jelek lalu pelajaran seni bagus, lalu mengapa yang dileskan pelajaran matematika? Mengapa tidak dileskan apa yang memang anak itu suka? Jika matematika jelek, biarkan jelek. Pelajaran yang disukai dibantu orang tua supaya lebih bagus. Memang ada pelajaran tertentu yang jika kurang akan menyebabkan anak tidak naik kelas. Kalau yang seperti itu dibantu secukupnya, tidak perlu sembilan atau sepuluh. Anda rangking satu di kelas tidak akan menjamin anda sukses ketika dewasa. Sama sekali tidak berhubungan.

Kuncinya adalah orang tua, orang tua harus mendukung apa yang anak suka. Kalau ada pelajarang yang jelek dan baik, dukung pelajaran yang nilainya baik. Jangan paksa anak untuk mempelajari yang nilainya jelek menjadi nilainya sembilan atau sepuluh. Tidak perlu takut untuk mendapat nilai jelek, tidak perlu takut untuk tidak naik kelas. Tidak naik kelas bukan berarti masa depan anda hancur. Saya harap orang-orang tua di Indonesia mendukung anak-anaknya, tidak memarahi anak-anaknya ketika ada nilai yang jelek.

Sekali lagi, masa depan anak tidak tergantung dari pintar tidaknya ketika di sekolah. Masa depan anak tidak tergantung dari naik atau tidak naik kelas. Masa depan anda juga tidak tergantung dari rapor. Tapi masa depan anda sebenarnya tergantung dari cara anda bersosialisasi, menambah pengetahuan setiap hari yang bisa didapat dari mana-mana; dari internet, dari buku, dari cerita , dari pengalaman orang lain yang anda suka. Karena masa depan bukan tergantung dari nilai sekolah anda, tapi masa depan ada di tangan anda. Jangan takut mendapatkan nilai merah, karena kadang merah artinya sukses untuk masa depan.

tambahan nih paman Hehe
Spoiler :
Mungkin banyak guru maupun orang tua yang tidak setuju dengan pernyataan Deddy Corbuzier tersebut. Namun jika dilihat faktanya, memang pendidikan di Indonesia memang hanya mengedepankan kognitif terutama kecerdasan matematis. Padahal menurut Edward Gardner ada 8 macam kecerdasan pada manusia yaitu kecerdasan lingustik, kecerdasan matematis-logis, kecerdasan spasial, kecerdasan kinestetis jasmani, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Hal ini menjadi salah satu alasan yang mendasariku menolak sistem Ujian Nasional, karena Ujian Nasional belum bisa mengakomodasi potensi anak yang berbeda-beda.

ini pengalaman Deddy, tambahan Keren
Spoiler :
1. Masa depan tidak ditentukan sekolah

2. Sekolah ingin membentuk anak-anaknya menjadi guru.

3. Sistem sekolah di mana semua pelajar harus menguasai berbagai macam pelajaran dianggap tidak tepat. Deddy berpendapat bahwa sistem kuliah hendaknya dilaksanakan sejak kecil, berdasarkan minat anak tersebut. Jadi anak bisa memilih untuk masuk ke kelas yang disukainya sejak usia dini.

4. Dukungan orang tua terhadap suatu bidang yang disukai oleh sang anak sangat penting untuk membuat anak lebih berhasil di masa depan. Jika anak anda mendapat nilai bagus di kesenian dan nilai jelek di Matematika, jangan justru anak diikutkan les Matematika. Ikutkan dia les kesenian untuk menunjang bakatnya. Jika memang diperlukan nilai minimal untuk naik kelas/ lulus, berikan saja bantuan agar anak tersebut mendapatkan nilai cukup untuk lulus.

5. Nilai pelajaran, ranking, hasil UAS/ UAN anda tidak menentukan masa depan anda.

6. Tidak perlu takut untuk dapat nilai jelek, atau bahkan tidak naik kelas. (Deddy Corbuzier pernah tidak naik kelas).

7. Masa depan anda bergantung dari kemampuan anda bersosialisasi dan menambah pengetahuan anda SETIAP HARI dari berbagai sumber : buku, internet,pengalaman orang, dll....sepanjang hal itu anda sukai.

Pengalaman Master Deddy :


Guru akuntan Deddy dulu pernah mengatakan, "Deddy, kamu tidak akan pernah bisa jadi orang sukses kalau nilai akuntansimu sejelek sekarang."
Pada akhirnya, nilai akuntansi Deddy Corbuzier tetap jelek. Namun ia berhasil membuktikan bahwa pendapat sang guru salah. Ia berhasil menjadi orang sukses, bahkan berhasil mempekerjakan seorang akuntan sebagai anak buahnya ".

bisa juga dengerin lewat rekamannya Deddy
Spoiler :

kalo menurut paman paman gimana? Garukgaruk
(This post was last modified: 23-03-2014 11:50 AM by Crowlazy.)

RT: Pentingkah Sekolah? -Deddy Corbuzier

saya share yaaa man! ini gue banget nih Keren

RT: Pentingkah Sekolah? -Deddy Corbuzier

(23-03-2014 01:55 PM)c0nn3x0r Wrote: saya share yaaa man! ini gue banget nih Keren

oke man Ketawa

RT: Pentingkah Sekolah? -Deddy Corbuzier

Nanti banyak yang kaga mau sekolah man abis baca thread ini Sstt

RT: Pentingkah Sekolah? -Deddy Corbuzier

(23-03-2014 05:05 PM)NikoBrama Wrote: Nanti banyak yang kaga mau sekolah man abis baca thread ini Sstt

ambil sisi positivenya aja paman Keren

RT: Pentingkah Sekolah? -Deddy Corbuzier

Bagus ini tapi pendidikan diperlukan untuk masuk perguruan tinggi. SD dan SMP anak wajib mengikuti semua mata pelajaran karena pelajarannya masih mudah. Sedangkan SMA dan kuliah sudah ada penjurusan karena tingkat pelajarannya lebih sulit.

Lagi pula kita kan ga perlu serius di semua mata pelajaran ada mata pelajaran yang untuk menghilangkan kejenuhan seperti seni.

RT: Pentingkah Sekolah? -Deddy Corbuzier

(27-03-2014 02:27 PM)Prasas Wrote: Bagus ini tapi pendidikan diperlukan untuk masuk perguruan tinggi. SD dan SMP anak wajib mengikuti semua mata pelajaran karena pelajarannya masih mudah. Sedangkan SMA dan kuliah sudah ada penjurusan karena tingkat pelajarannya lebih sulit.

Lagi pula kita kan ga perlu serius di semua mata pelajaran ada mata pelajaran yang untuk menghilangkan kejenuhan seperti seni.

iya bener paman Jempol serius ke mapel yang kita sukai aja kalo menurut ane Bacabuku

RT: Pentingkah Sekolah? -Deddy Corbuzier

(23-03-2014 11:44 AM)aldyfreestyle Wrote: Berikut saya rangkum rekaman Deddy Corbuzier (yang saya dapat dari google + youtube ) tentang sekolah di Indonesia. Wajib didengar atau dibaca bagi wali murid. Bagus juga untuk renungan guru. Jika ada yang salah mohon dikoreksi.

[Image: 0.jpg]

Pertama, sekolah itu PENTING. Tapi banyak hal yang salah di dalam sekolah, terutama di Indonesia. Anda tahu, banyak anak yang tidak baik di sekolahnya tapi besarnya bisa sukses. Sedangkan anak-anak yang sukses di sekolah (bukannya tidak sukses), mereka bekerja sebagai pegawai biasa. Mengapa? Karena masa depan tidak ditentukan oleh sekolah.

Kalau anda lihat, apa sih yang ingin dibentuk oleh sekolah? Menurut saya (Deddy Corbuzier) hanya satu, sekolah ingin membentuk anak didiknya menjadi guru. Ya, guru matematika ingin anak didiknya menjadi guru matematika dan guru sejarah ingin anak didiknya menjadi guru sejarah. Begitu juga dengan guru-guru lainnya. Misal kita ambil satu guru, guru matematika jika kita tes geografi maka dia tidak akan bisa mendapatkan nilai yang baik. Lalu mengapa jika guru-guru tersebut tidak bisa melakukan hal-hal yang lain dengan baik sedangkan semua murid dipaksa mendapakan semua nilainya baik? Jika gurunya saja hanya menguasai satu mata pelajaran mengapa murid harus mengetahui semua mata pelajaran? Untuk dasar katanya. Toh guru tersebut juga sadar, saat dia dewasa dia tidak menggunakan semua mata pelajaran yang diberikan waktu kecil. Karena pada dasarnya tidak ada manusia yang sempurna dalam segala hal, begitu juga dengan murid-murid. Murid-murid tidak akan bisa menguasai semua hal dengan baik. Dan banyak pelajaran-pelajaran yang diberikan tidak digunakan ketika dewasa.


Sekarang apanya yang mesti dirubah, sekolahnya atau sistemnya? Mengapa tidak sejak kecil ketika anak masuk SD kita lihat dulu berapa lama lalu kita bagi kelasnya? Kalau memang anak ini suka matematika, berika dia pelajaran matematika lebih banyak. Seperti orang kuliah tapi sejak kecil. Jadi sejak kecil anak ini dijuruskan ke pelajaran yang dia suka. Bukan dijejalkan dengan semua pelajaran yang dia suka atau tidak suka harus bisa, harus hafal.

Ada anak yang pintar, bisa menghafal semua tapi ketika dewasa pikirannya telah terkotaki, kreatifitasnya telah buntu, otak kanannya tidak akan jalan karena yang dipakai otak kirinya untuk menghafal, menghafal, menghafal.. Akhirnya bukan pintar, bukan cerdik tapi jago menghafal. Dan biasanya anak seperti itu pelajaran olah raga atau seninya tidak baik, karena otak kanannya tidak dipakai.

Untuk merubahnya butuh tahunan, tapi saya harap suatu saat bisa. Kalau orang tua mendukung apa yang anak suka dalam mata pelajaran, mungkin akan menjadi anak yang berhasil kedepannya. Misal pelajaran matematika jelek lalu pelajaran seni bagus, lalu mengapa yang dileskan pelajaran matematika? Mengapa tidak dileskan apa yang memang anak itu suka? Jika matematika jelek, biarkan jelek. Pelajaran yang disukai dibantu orang tua supaya lebih bagus. Memang ada pelajaran tertentu yang jika kurang akan menyebabkan anak tidak naik kelas. Kalau yang seperti itu dibantu secukupnya, tidak perlu sembilan atau sepuluh. Anda rangking satu di kelas tidak akan menjamin anda sukses ketika dewasa. Sama sekali tidak berhubungan.

Kuncinya adalah orang tua, orang tua harus mendukung apa yang anak suka. Kalau ada pelajarang yang jelek dan baik, dukung pelajaran yang nilainya baik. Jangan paksa anak untuk mempelajari yang nilainya jelek menjadi nilainya sembilan atau sepuluh. Tidak perlu takut untuk mendapat nilai jelek, tidak perlu takut untuk tidak naik kelas. Tidak naik kelas bukan berarti masa depan anda hancur. Saya harap orang-orang tua di Indonesia mendukung anak-anaknya, tidak memarahi anak-anaknya ketika ada nilai yang jelek.

Sekali lagi, masa depan anak tidak tergantung dari pintar tidaknya ketika di sekolah. Masa depan anak tidak tergantung dari naik atau tidak naik kelas. Masa depan anda juga tidak tergantung dari rapor. Tapi masa depan anda sebenarnya tergantung dari cara anda bersosialisasi, menambah pengetahuan setiap hari yang bisa didapat dari mana-mana; dari internet, dari buku, dari cerita , dari pengalaman orang lain yang anda suka. Karena masa depan bukan tergantung dari nilai sekolah anda, tapi masa depan ada di tangan anda. Jangan takut mendapatkan nilai merah, karena kadang merah artinya sukses untuk masa depan.

tambahan nih paman Hehe
Spoiler :
Mungkin banyak guru maupun orang tua yang tidak setuju dengan pernyataan Deddy Corbuzier tersebut. Namun jika dilihat faktanya, memang pendidikan di Indonesia memang hanya mengedepankan kognitif terutama kecerdasan matematis. Padahal menurut Edward Gardner ada 8 macam kecerdasan pada manusia yaitu kecerdasan lingustik, kecerdasan matematis-logis, kecerdasan spasial, kecerdasan kinestetis jasmani, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Hal ini menjadi salah satu alasan yang mendasariku menolak sistem Ujian Nasional, karena Ujian Nasional belum bisa mengakomodasi potensi anak yang berbeda-beda.

ini pengalaman Deddy, tambahan Keren
Spoiler :
1. Masa depan tidak ditentukan sekolah

2. Sekolah ingin membentuk anak-anaknya menjadi guru.

3. Sistem sekolah di mana semua pelajar harus menguasai berbagai macam pelajaran dianggap tidak tepat. Deddy berpendapat bahwa sistem kuliah hendaknya dilaksanakan sejak kecil, berdasarkan minat anak tersebut. Jadi anak bisa memilih untuk masuk ke kelas yang disukainya sejak usia dini.

4. Dukungan orang tua terhadap suatu bidang yang disukai oleh sang anak sangat penting untuk membuat anak lebih berhasil di masa depan. Jika anak anda mendapat nilai bagus di kesenian dan nilai jelek di Matematika, jangan justru anak diikutkan les Matematika. Ikutkan dia les kesenian untuk menunjang bakatnya. Jika memang diperlukan nilai minimal untuk naik kelas/ lulus, berikan saja bantuan agar anak tersebut mendapatkan nilai cukup untuk lulus.

5. Nilai pelajaran, ranking, hasil UAS/ UAN anda tidak menentukan masa depan anda.

6. Tidak perlu takut untuk dapat nilai jelek, atau bahkan tidak naik kelas. (Deddy Corbuzier pernah tidak naik kelas).

7. Masa depan anda bergantung dari kemampuan anda bersosialisasi dan menambah pengetahuan anda SETIAP HARI dari berbagai sumber : buku, internet,pengalaman orang, dll....sepanjang hal itu anda sukai.

Pengalaman Master Deddy :


Guru akuntan Deddy dulu pernah mengatakan, "Deddy, kamu tidak akan pernah bisa jadi orang sukses kalau nilai akuntansimu sejelek sekarang."
Pada akhirnya, nilai akuntansi Deddy Corbuzier tetap jelek. Namun ia berhasil membuktikan bahwa pendapat sang guru salah. Ia berhasil menjadi orang sukses, bahkan berhasil mempekerjakan seorang akuntan sebagai anak buahnya ".

bisa juga dengerin lewat rekamannya Deddy
Spoiler :

kalo menurut paman paman gimana? Garukgaruk

Anjir gue jadi Termotivasi dengan ini Nice share paman + gua Uplod juga artikel ini di blog OFFICIAL gue Haha

RT: Pentingkah Sekolah? -Deddy Corbuzier

(18-04-2014 11:37 PM)Kai Wrote: Anjir gue jadi Termotivasi dengan ini Nice share paman + gua Uplod juga artikel ini di blog OFFICIAL gue Haha
sama kek ane "termotivasi" Hehe oke paman

RT: Pentingkah Sekolah? -Deddy Corbuzier

true banget
sekolah tidak menentukan kebeerhasilan di masa depan

oiia man , menurut ane dan teeam study ane di amerika ( Ciiieee ,, Lebay amat paman ,, ehh jangan percaya ,, cuman ngada2 Ketawa kaboor Bonceng )

jadi katanya ,, 90 -96 % orang sukses itu hasil otak kanan , bukan otak kiri .

RE: Pentingkah Sekolah? -Deddy Corbuzier

(07-06-2014 12:32 PM)Fega Wrote: true banget
sekolah tidak menentukan kebeerhasilan di masa depan

oiia man , menurut ane dan teeam study ane di amerika ( Ciiieee ,, Lebay amat paman ,, ehh jangan percaya ,, cuman ngada2 Ketawa kaboor Bonceng )

jadi katanya ,, 90 -96 % orang sukses itu hasil otak kanan , bukan otak kiri .

iyaa yang menentukan kan diri kita sendiri, bagaimana kita bersosialisasi setiap harinya Hehe Ketawa

RE: Pentingkah Sekolah? -Deddy Corbuzier

(23-09-2014 10:31 AM)Crowlazy Wrote: iyaa yang menentukan kan diri kita sendiri, bagaimana kita bersosialisasi setiap harinya Hehe Ketawa

haha iia paman Ketawa

RE: Pentingkah Sekolah? -Deddy Corbuzier

(21-06-2015 07:22 PM)Fega Wrote: haha iia paman Ketawa

yoi man Hehe
kampoeng