Jakarta Amburadul Kok Mau Nyapres

 
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
View Mode
Views:

411


Replies:0

Jakarta Amburadul Kok Mau Nyapres

[Image: Dgtlwau5Bz.jpg?w=400]

JAKARTA - Anggota DPD RI, AM Fatwa, mengaku kecewa dengan sikap Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) yang memutuskan untuk menjadi calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Bahkan, mantan staf ahli Gubernur DKI Ali Sadikin itu menyesal telah mendukung Jokowi-Ahok dalam Pemilihan Gubernur DKI 2012.

"Tiba-tiba saya merasa suasana hati yang sunyi, hampa, dan galau setelah adanya keputusan Jokowi jadi capres. Sejak kampanye tahap kedua Pilgub DKI 2012 saya memberikan dukungan konstruksi meski disertai berbagai resiko kesalahpahaman," kata Fatwa.

Tak sampai di situ, Fatwa juga kecewa dengan sikap Jokowi yang tak pernah menggubris surat-surat darinya yang berisi masukan dan kritik terhadap kinerja Pemprov DKI.

"Surat tidak pernah terjawab. Saya dibikin kecewa soal surat menyurat. Saya lama jadi staf Ali Sadikin, tapi tidak begitu," tutur Fatwa saat berkunjung ke Kantor Redaksi Okezone beberapa waktu lalu.

Jika membandingkan kinerja mantan gubernur DKI Sutiyoso, Fauzi Bowo, dengan Jokowi saat ini, menurutnya, Jokowi yang mendapat nilai negatif di matanya.

"Saya cukup kecewa dengan Foke, saya anggap Sutiyoso cukup membawa perubahan meski tidak seluruhnya. Jokowi saya tidak melihat, masih pada pencitraan," kata mantan staf khusus Menteri Agama Tarmizi Taher ini.

Lebih lanjut, Fatwa menuturkan, kinerja Pemprov DKI yang dipimpin oleh Jokowi dan Ahok juga lemah dalam hal komunikasi politik. Dia mencontohkan terkait tarik ulurnya APBNP DKI yang molor dari waktu yang ditetapkan. Antara DPRD dan Pemprov DKI kurang memiliki hubungan yang harmonis. Padahal
seharusnya hubungan DPRD dengan Pemprov DKI satu suara.

"Jokowi komunikasi politiknya tidak berjalan, hubungan dengan DPRD tidak lancar padahal itu kemutlakan. Pemerintah daerah, gubernur dan DPRD satu. Lain halnya presiden dengan parlemen. Saya lihat itu jadi hambatan, cenderung terjadi perdebatan terbuka dan itu tidak menguntungkan," paparnya.

Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) itu melihat pasangan Jokowi-Ahok hanya mengandalkan dukungan fatamorgana. "Angan-angan untuk presiden iya, tapi kesuksesan pemerintahanya tidak. Amburadul dalam melakukan perombakan birokrasi, manajemen pemerintahan tidak jalan," kata pria kelahiran Bone, 12 Februari 1939 itu.
kampoeng